Pemeriksaan gula darah sewaktu

Pemeriksaan Gula Darah, Ada 6 Metode Dengan Keunggulan Berbeda

Pemeriksaan gula darah merupakan prosedur medis untuk mengetahui kadar glukosa dalam darah. Terdapat beberapa jenis pemeriksaan gula darah, masing-masing pemeriksaan memberikan hasil kadar glukosa darah berdasarkan waktu tertentu.

Pada penderita diabetes, pemeriksaan gula darah dilakukan guna memantau kadar gula darah pasien terkendali atau tidak. Namun,pemeriksaan gula darah juga berguna bagi siapa saja untuk mengetahui kondisi gula seseorang atau untuk kebutuhan sarana diagnosis medis sebelum tindakan medis tertentu.

Jenis Pemeriksaan Gula Darah

Banyak dari kita tidak menyadari bahwa kadar gula darah sedang tinggi. Karena, gejala gula darah tinggi, seperti sering haus dan buang air kecil, penglihatan kabur, dan rasa lemas tidak selalu muncul.

Tak jarang, banyak yang mengabaikan keluhan tersebut, tanpa mewaspadai penyakit yang dapat muncul dari kadar gula darah tinggi. Ini juga yang menyebabkan seseorang dengan kadar gula darah tinggi setelah terdiagnosis penyakit diabetes. Inilah pentingnya melakukan pemeriksaan gula darah rutin. Terutama untuk Anda yang memiliki faktor risiko penyakit diabetes, seperti kegemukan, riwayat keluarga dengan diabetes, hipertensi dan penyakit jantung.

Terdapat beberapa pemeriksaan gula darah yang biasa dilakukan Anda dan keluarga, antara lain :

1. Pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS)

Pemeriksaan gula darah sewaktu dapat dilakukan setiap saat, tanpa harus mempertimbangkan waktu makan terakhir Anda. Umumnya pemeriksaan gula darah sewaktu dilakukan ketika seseorang memiliki gejala penyakit diabetes, seperti sering buang air kecil, kehausan ekstrem atau obesitas.

Hasil pemeriksaan gula darah sewaktu di bawah angka 200 mg/dL menunjukkan kadar gula normal. Centers for Disease Control (CDC), mengatakan pemeriksaan gula darah sewaktu yang menunjukkan angka 200 mg/dL (11.1 mmol/L) atau lebih, berarti gula darah Anda tinggi dan berisiko memiliki penyakit diabetes mellitus.

2. Pemeriksaan gula darah puasa

Pemeriksaan gula darah puasa dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan GDS. Sampel darah pada pemeriksaan gula darah ini diambil setelah pasien berpuasa kurang lebih 8 jam.

Pemeriksaan gula darah puasa dianggap sebagai pemeriksaan gula darah yang efektif. Dengan kriteria nilai pemeriksaan normal (kurang dari 100 mg/dL). Prediabetes antara 100 sampai 125 mg/dL (5,6 sampai 6,9 mmol/L). Diabetes sama dengan atau diatas 126 mg/dL.

3. Pemeriksaan Gula Darah 2 Jam Setelah Makan

Pemeriksaan gula darah 2 jam setelah makan atau postprandial blood glucose test dilakukan setelah Anda puasa sebelumnya. Jeda 2 jam diperlukan karena setelah makan kadar glukosa naik dan normalnya hormon insulin akan mengembalikan kadar gula darah ke batas normal.

Untuk melakukan pemeriksaan gula darah ini, pasien berpuasa selama 12 jam dan setelahnya makan seperti biasa. Setelah makan normal, jangan mengonsumsi apa pun lagi hingga waktu pemeriksaan. Berikut kategori kadar pemeriksaan gula darah 2 jam setelah makan, normal (kurang dari 140 mg/dL). Diabetes nilai 180 mg/dl atau lebih

4. Pemeriksaan Toleransi Glukosa Oral (OGTT)

Pemeriksaan toleransi glukosa oral dilakukan setelah 2 jam dari saat mengonsumsi 75 gram cairan glukosa. Sebelum melakukan pemeriksaan gula darah oral, pasien diharuskan berpuasa 8 jam.

Prosedur pemeriksaan gula darah oral, pengambilan sampelnya dilakukan 1 jam setelah minum cairan glukosa dan 2 jam kemudian setelah meminum cairan untuk kedua kalinya. Pemeriksaaan OGTT memiliki hasil yang lebih baik dari tes gula darah puasa, namun biaya pemeriksaan OGTT umumnya lebih mahal.

Kategori kadar gula darah dari pemeriksaan toleransi gula darah oral, sebagai berikut; normal (kurang dari 140 mg/dL). Prediabetes dengan nilai 140-199 mg/dl. Diabetes dengan nilai 200 mg/dl atau lebih. Pemeriksaan toleransi gula darah oral digunakan sebagai tes diagnostik diabetes gestasional pada ibu hamil.

5. Pemeriksaan Gula Darah HbA1c

Pemeriksaan glikohemoglobin atau pemeriksaan HbA1c adalah pengukuran gula darah jangka panjang. Pemeriksaan gula darah ini memungkinkan dokter mengetahui rata-rata nilai gula darah pasien selama 1-3 bulan terakhir.

Pemeriksaan gula darah HbA1c dilakukan dengan menghitung persentase gula darah terikat dengan hemoglobin. Hemoglobin adalah oksigen pembawa protein dalam sel darah merah. Semakin tinggi hemoglobin A1c, semakin tinggi pula tingkat gula darah seseorang.

Berikut pembacaan pemeriksaan gula darah HbA1c, dikatakan diabetes jika (6,5% atau lebih dan telah dilakukan lebih dari satu kali). Prediabetes: 5,7-6,4%. Normal saat presentasi HbA1c kurang dari 5,7%.

Pemeriksaan gula darah ini dapat memantau gula darah secara rutin setelah Anda dinyatakan positif mengalami diabetes melitus. Kadar HbA1c sebaiknya perlu pemeriksaan beberapa kali dalam setahun.

Terdapat beberapa kondisi yang membuat pemeriksaan gula darah HbA1c tidak adekuat dalam diagnosis diabetes. Apabila pemeriksaan dilakukan pada wanita hamil atau pada orang-orang dengan variasi hemoglobin.

6. Pemeriksaan Insulin C-peptida

Selain melalui pemeriksaan gula darah, diagnosis diabetes dapat dilakukan melalui tes insulin C-peptida. Pemeriksaan C-peptida merupakan tes gula darah yang dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak insulin yang diproduksi tubuh.

Pemeriksaan ini bermanfaat menentukan pasien menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2. Pemeriksaan insulin C-peptida lebih sering dilakukan pada penderita diabetes tipe 1 untuk mengetahui seberapa baik kinerja sel-sel beta pankreas.

Sebelum pemeriksaan insulin C-peptida pasien diminta berpuasa selama 12 jam. Pemeriksaan insulin C-peptida mengharuskan pengambilan sampel darah. Hasil normal untuk pemeriksaan C-peptida darah antara 0,5-2,7 ng/mL (nanogram per mililiter). Namun, hasil tes insulin C-peptida dapat bervariasi tergantung laboratorium tempat Anda memeriksa. Laboratorium Arkatama memberikan hasil pemeriksaan yang akurat untuk Anda.

Kadar gula rendah saat kadar C-peptida yang di bawah normal sekaligus menandakan diabetes tipe 1. Pemeriksaan kadar gula darah tinggi saat kadar C-peptida yang di atas normal, menjadi indikasi dari resistensi insulin, atau diabetes tipe 2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ruko Cibinong City Center, Blok B No. 12B

Hubungi Kami Segera

Hubungi Kami Segera

021 2933 5171

Email Kami

Email Kami

lab.arkatama@gmail.com

Daftar Online

Daftar Online

Daftar Cek Lab